A. PENDAHULUAN

Dalam Kamus Besar bahasa Indonesia, akhlak diartikan sebagai budi pekerti atau kelakuan. Dalam Bahasa Arab kata akhlak (akhlaq) di­artikan sebagai tabiat, perangai, kebiasaan, bahkan agama. Meskipun kata akhlak berasal dari Bahasa Arab, tetapi kata akhlak tidak terdapat di dalam Al Qur’an. Kebanyakan kata akhlak dijumpai dalam hadis. Satu-satunya kata yang ditemukan semakna akhlak dalam al-Qur’an adalah bentuk tunggal, yaitu khuluq, tercantum dalam surat al-Qalam ayat 4:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

yang artinya: Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi pekerti yang agung. Sedang­kan hadis yang sangat populer menyebut akhlak adalah hadis riwayat Malik, Innama bu’itstu liutammima makarima al akhlaqi, yang artinya: Bahwasanya aku (Muhammad) diutus menjadi Rasul tak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak mulia.

Mengapa dalam hadits di atas kata “akhlak” di sifati dengan kata “karimah“? Ini menunjukkan bahwa kemuliaan itu erat kaitannya dengan akhlak mulia. Kemuliaan itu tidak disebabkan karena ketampanan, kekayaan, kedudukan, tetapi kemuliaan itu disebabkan oleh akhlak mulia. Meskipun seseorang itu miskin, tak punya apa-apa, tak berkedudukan, jika ia berakhlak mulia, niscaya ia akan memiliki kemuliaan. Jika ada seorang pejabat, konglomerat, uangnya banyak, mobilnya mewah, rumahnya seperti istana, ia dimulyakan orang sebab harta dan kedudukannya, maka kemuliaannya adalah semu. Kemulyaan yang disebabkan oleh harta benda atau kedudukan adalah kemuliaan yang sifatnya semu. Jika hartanya habis, kedudukannya berakhir, dan tanda tangannya tidak laku, maka lenyap sudah kemulyaannya. Orang tidak akan memandang ketampanannya, kekayaannya, kedudukannya, melainkan orang itu melihat pada akhlaknya. Karena itu, kemulyaan itu sangat erat dengan akhlak karimah. Kerusakan-kerusakan yang terjadi, musibah dan bencana yang tak kunjung berhenti, penyebabnya adalah bobroknya akhlak.

Berakhlak karimah itu hanya berlaku bagi manusia, bukan untuk hewan atau tumbuhan. Karena itu, saat pohon kelapa tumbang menimpa masjid, tidak ada undang-undang yang akan menghukum pohon kelapa itu. Demikian juga, misalkan ada seekor sapi betina berjalan kelihatan pahanya, maka ia tidak perlu dinasehati. Sebab, akhlak hanya berlaku dan untuk manusia saja.

Menurut Imam Gazali, akhlak adalah keadaan yang bersifat batin dimana dari sana lahir perbuatan dengan mudah tanpa dipikir dan tanpa dihitung resikonya (al khuluqu haiatun rasikhotun tashduru ‘anha al-a’fal bi suhulatin wa yusrin min ghoiri hajatin awfikrin wa ruwiyyatin. Sedangkan ilmu akhlak adalah ilmu yang berbicara tentang baik dan buruk dari suatu perbuatan. Dari definisi itu maka dapat difahami bahwa istilah akhlak adalah netral, artinya ada akhlak yang terpuji (al-akhlaq al-mah­mudah) dan ada akhlak yang tercela (al-akhlaq al-mazmumah).

Berhias dengan akhlak mulia pertanda imannya sempurna. Sebab, di antara kesempurnaan iman adalah kesempurnaan akhlak. Sebagaimana yang telah di sabdakan oleh Rasulullah saw:

 
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Abu Dawud).
Seorang muslim yang baik, tentu saja ia akan berusaha untuk menghias diri dengan akhlak karimah dengan mensuritauladani Rasulullah dalam kehidupan. Ia berbicara pada saat dan tempat yang tepat dan ucapannya sarat dengan hikmah. Kata-katanya mengandung kelembutan, kebenaran, seruan, ide, gagasan, zikir, solusi, dan ilmu yang menyejukan hati orang yang mendengarnya. Ia lebih banyak diam dari pada banyak berbicara tetapi banyak kesalahan. Pandangannya tertunduk dari pandangan yang haram. Ia murah senyum tulus ketika bertemu dengan siapa pun. Ia hindari perkataan dan sikap yang mengandung kesombongan. Ketika berbicara ia jauhi perkataan kotor dan mencaci orang. Ia sedikit berbicara, tetapi banyak bekerja. Amal dan pekerjaannya jauh dari pamrih. Tawadhu’ di hadapan siapa pun. Khusyu’ dan tenang manakala beribadah. Ia menyayangi setiap orang seperti ia menyayangi diri sendiri. Arif dan bijaksana dalam memutuskan sesuatu. Ia segera menyambung hubungan yang sempat terputus. Ia maafkan orang yang berbuat dholim kepadanya. Aib dan kekurang orang tak pernah ia buka di muka umum. Introspeksi diri untuk memperbaiki diri selalu ia lakukan. Ia benci dan cinta karena Allah. Susah senang ia terima dengan lapang dada. Sabar ketika di timpa musiab. Ia mendahulukan keramahan dari pada kemarahan. Hatinya berontak jika ada hewan yang teraniaya. Begitu besar kasih sayangnya terhadap makhluk ciptaan Allah.

Ayat-ayat
 
“Dan sesungguhnya engkau sangat berbudi luhur” (QS. al-Qalam : 4)

“Sungguh pada diri Rasulullah saw itu terdapat suri tauladan yang baik bagi kamu, (yaitu) bagi siapa yang mengharap (rahmat) Allah dan (kebahagiaan) hari kiyamat dan ia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab:21)

“Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh”. (QS. Al-A’raaf: 199)

 
 
 
 
 
 

B. Asbabun nuzul :
1. Al-Qalam : 4
            Sa’ad bin Hisyam datang kepada Siti ‘Aisyah r.a. dan bertanya, “Ceritakanlah kepadaku bagaimana akhlak Rasulullah Saw?” Maka jawab ‘Aisyah, “Akhlak Nabi Saw itu adalah al-Qur’an, Apakah anda tidak membaca ayat : Wa innaka la’alla khuluqin ‘adhim? Sesungguhnya engkau berakhlak luhur, berbudi tinggi, yakni selalu menurut dan melaksanakan tuntunan al-Qur’an dan menghentikan larangannya disamping sifat-sifat aslinya yaitu malu, murah hati, dermawan, berani, sabar, dan sopan santun.”
            Anas bin Malik r.a. berkata, “Saya telah menjadi pelayan Rasulullah Saw selama sepuluh tahun, beliau belum pernah membentak saya atau menyalahkan perbuatan yang saya lakukan, tidak pernah menegur dengan kata ; mengapa anda berbuat itu atau mengapa tidak kau perbuat itu?”
            Nabi Saw adalah sebaik-baik manusia akhlak budi pekertinya, dan belum pernah saya menyentuh sutera dan beludru yang lebih halus disbanding dengan tangan Rasulullah Saw. Belum pernah berbau sesuatu yang lebih harum daripada peluh Rasulullah Saw. (HR Bukhari dan Muslim)
            ‘Aisyah r.a. berkata, “Tangan Rasulullah Saw tidak pernah digunakan memukul istri atau pelayan, budak bahkan belum pernah digunakan memukul sesuatu kecuali dalam perang fisabilillah, dan tiada disuruh memilih dua macam melainkan memilih yang lebih ringan, selama tidak berupa dosa dan bila ternya dosa maka ia sangat jauh daripadanya, dan tidak suka membalas untuk kepentingan dirinya, kecuali jika terjadi pelanggaran terhadap hukum agama ia sangat marah semata-mata karena Allah (HR Ahmad)
            Ali bin Abi Thalib pernah berkata tentang diri Rasulullah saw: “Barang siapa memandangnya sepintas lalu, akan merasa enggan kepadanya (sebab kewibawan beliau), tetapi barang siapa telah bergaul baik-baik dengannya, akan timbul cinta kepadanya”.

2. Al-Ahzab:21

Allah swt berfirman, “Mengapa kamu tidak berteladan kepada Rasulullah Saw, betapa ia menghadapi musuh dan perang khandaq (ahzab) dengan penuh kesabaran, ketetapan hati, keberanian dan kepercayaan penuh akan pertolongan Allah yang dijanjikan. Bukanlah Allah telah menjadikan dalam diri Rasulullah suri tauladan yang baik bagi para pengikutnya, orang-orang mukmin yang mengharapkan rahmat dan ridha Allah dan yang beriman kepada hari kiamat serta selalu ingat kepada Allah”

 
3. Al-a’raf : 199
            Ubay berkata : Ketika turun ayat ini, Nabi Muhammad Saw bertanya kepada Jibril as. “Apakah maksud ini hai Jibril?”  Jawab Jibril, “Sesungguhnya Allah menyuruhmu memaafkan terhadap orang-orang yang menganiayamu, dan memberi kepada oang yang bakhil kepadamu dan menghubungi orang yang memutus hubungan kepadamu”

C. Munasabah : 
            Al-Qalam ayat 4 menjelaskan bahwa Nabi Muhammad Saw itu memiiki budi pekerti yang luhur, kemudian dalam Al-Ahzab ayat 21 dijelaskanlah bahwa Nabi Muhammad Saw itu adalah sebaik-baik tauladan dalam sifat dan akhlak beliau. Sedangkan dalam Al-A’raf ayat 199 dijelaskan tentang bangunan dari akhlakul karimah.
Ketiga ayat tersebut memilki kaitan yang sangat erat dalam tinjauan pembelajaran dasar-dasar akhlak karimah.

D. Kandungan Ayat :
            Ayat al-A’raf 199 menurut Az-Zamaksyari dan Ibnu Asyur termasuk kategori “Ajma’u Ayatin fi Makarimil Akhlak”, ayat yang paling komprehensif dan lengkap tentang bangunan akhlak yang mulia, karena bangunan sebuah akhlak yang terpuji tidak lepas dari tiga hal yang disebutkan oleh ayat diatas, yaitu mema’afkan atas tindakan dan prilaku yang tidak terpuji dari orang lain, senantiasa berusaha melakukan dan menyebarkan kebaikan, serta berpaling dari tindakan yang tidak patut.
            Secara tematis, mayoritas tema surah Al-A’raaf memang berbicara tentang prilaku dan perbuatan tidak bermoral dan jahil orang-orang musyrik, maka menurut Ibnu ‘Asyur, sesungguhnya ayat ini merupakan solusi yang ditawarkan oleh Al-Qur’an atas perilaku umumnya orang-orang musyrik. Bahkan posisi ayat ini yang berada di akhir surah Al-A’raaf sangat tepat dijadikan sebagai penutup surah dalam pandangan Sayid Quthb dalam tafsir Fi Dzilalil Qur’an karena merupakan arahan dan taujih langsung Allah swt kepada Rasul-Nya Muhammad saw dan orang-orang yang beriman bersama beliau saat mereka berada di Makkah dalam menghadapi kebodohan dan kesesatan orang-orang jahiliyah di Makkah pada periode awal perkembangan Islam
            Secara redaksional, perintah mema’afkan dalam ayat Makarimil Akhlak di atas bersifat umum dalam segala bentuknya. Ibnu ‘Asyur menyimpulkan hal tersebut berdasarkan analisa bahasa pada kata “Al-Afwu” yang merupakan lafadz umum dalam bentuk “ta’riful jinsi” (keumuman dalam jenis dan bentuk mema’afkan). Mema’afkan disini bisa diartikan sebagai sikap berlapang dada, tidak membalas prilaku buruk orang, bahkan mendoakan kebaikan untuk mereka. Namun tetap keumuman Al-Afwu disini tidak mutlak dalam setiap keadaan dan setiap waktu, seperti terhadap orang yang membunuh sesama muslim dengan sengaja tanpa alasan yang benar, atau terhadap orang yang melanggar aturan Allah swt secara terang-terangan berdasarkan nash Al-Qur’an dan hadits yang mengecualikan keumuman tersebut.
            Demi keutamaan dan keagungan kandungan ayat diatas, Rasulullah saw menjelaskannya sendiri dalam bentuk tafsir nabawi yang tersebut dalam musnad Imam Ahmad dari Uqbah bin Amir, bahwa Rasulullah saw pernah memberitahukan kepadanya tentang kemuliaan akhlak penghuni dunia. Rasulullah saw berpesan: “Hendaklah kamu menghubungkan tali silaturahim dengan orang yang justru berusaha memutuskannya, memberi kepada orang yang selalu berusaha menghalangi kebaikan itu datang kepadamu, serta bersedia mema’afkan terhadap orang yang mendzalimimu”.
            Penafsiran Rasulullah saw terhadap ayat diatas sangat jelas korelasinya. Seseorang yang menghubungkan silaturahim kepada orang yang memutuskannya berarti ia telah mema’afkan. Seseorang yang memberi kepada orang yang mengharamkan pemberian berarti ia telah datang kepadanya dengan sesuatu yang ma’ruf. Serta seseorang yang memaafkan kepada orang yang telah berbuat aniaya berarti ia telah berpaling dari orang-orang yang jahil.
            Bahkan secara aplikatif, perintah ayat ini mampu membendung emosi Umar bin Khattab saat mendengar kritikan pedas Uyainah bin Hishn atas kepemimpinan Umar. Uyainah berkata kepada Umar, “Wahai Ibnu Khattab, sesungguhnya engkau tidak pernah memberi kebaikan kepada kami dan tidak pernah memutuskan perkara kami dengan adil”. Melihat reaksi kemarahan Umar yang hendak memukul Uyainah, Al-Hurr bin Qays yang mendampingi saudaranya Uyainah mengingatkan umar dengan ayat Makarimil Akhlak, “Ingatlah wahai Umar, Allah telah memerintahkan nabi-Nya agar mampu menahan amarah dan mema’afkan orang lain. Sungguh tindakan engkau termasuk prilaku orang-orang jahil”. Kemudian Al-Hurr membacakan ayat ini. Seketika Umar terdiam merenungkan ayat yang disampaikan oleh saudaranya. Dan semenjak peristiwa ini, Umar sangat mudah tersentuh dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang menegur tindakan atau prilakunya yang kurang terpuji. (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas).

E. Kesimpulan 
            Sejatinya bagi orang muslim dapat menemukan sosok idola yang paling sempurna, yaitu baginda Rasulullah saw. Akhlak dan amal beliau adalah realisasi nilai-nilai al-qur’an. Semua butiran-butiran kata yang terucap dan perbuatannya mengandung banyak hikmah dan faidah. Hingga perkataan dan perbuatannya tidak di batasi oleh ruang dan waktu. Kehalusan dan kelembutan tutur kata dan perbuatan beliau terpancar dari al-qur’an. Pada diri beliau terdapat keteladanan yang luhur yang dapat menghantarkan pada rahmat dan ridha Allah.

Daftar Pustaka

Salim Bahreisy, Said Bahreisy. 1986. (Cet ke-1). Terjemah Singkat Tafsir Ibnu 
            Katsier. Surabaya : PT Bina Ilmu.
http://annajib.wordpress.com/2008/03/18/s-berhias-dengan-akhlak-karimah/
http://www.dakwatuna.com/2007/membangun-akhlakul-karimah/

Pendahuluan

Islam melihat konsep jual beli itu sebagai suatu alat untuk menjadikan manusia itu semakin dewasa dalam berpola pikir dan melakukan berbagai aktivitas, termasuk aktivitas ekonomi. Pasar sebagai tempat aktivitas jual beli harus, dijadikan sebagai tempat pelatihan yang tepat bagi manusia sebagai khalifah di muka bumi. Maka sebenarnya jual beli dalam Islam merupakan wadah untuk memproduksi khalifah-khalifah yang tangguh di muka bumi.

Dalam Qur’an Surat Al Baqarah ayat 275, Allah menegaskan bahwa: “…Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…”. Hal yang menarik dari ayat tersebut adalah adanya pelarangan riba yang didahului oleh penghalalan jual beli. Jual beli (trade) adalah bentuk dasar dari kegiatan ekonomi manusia. Kita mengetahui bahwa pasar tercipta oleh adanya transaksi dari jual beli. Pasar dapat timbul manakala terdapat penjual yang menawarkan barang maupun jasa untuk dijual kepada pembeli. Dari konsep sederhana tersebut lahirlah sebuah aktivitas ekonomi yang kemudian berkembang menjadi suatu sistem perekonomian.

Pertanyaannya kini adalah, seperti apakah konsep jual beli tersebut yang dibolehkan dan sesuai dengan pandangan Islam? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka kita perlu melihat batasan-batasan dalam melakukan aktivitas jual beli. Di dalam makalah ini kami ingin mencoba menyajikan berbagai macam aspek yang ada di dalam jual beli, mulai dari pengertian, rukun dan syarat, macam-macam jual beli dan lain sebagainya yang melingkupi jual beli tersebut.

A. Pengertian

Jual beli menurut bahasa adalah al-Ba’iy, al-Tijarah, dan al-Mubadalah.

Hal ini disebutkan dalam firman Allah Swt :

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang kami anuge- rahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi (al-Fathir : 29)

Menurut terminology, terdapat banyak formula dalam pengertian jual beli dari beberapa orang ulama’, akan tetapi dapat kita simpulkan bahwa inti dari jual beli adalah suatu perjanjian tukar-menukar benda atau barang yang mempunyai nilai secara sukarela diantara kedua belah pihak, yang satu menerima benda-benda dan pihak lain menerimanya sesuai dengan perjanjian atau ketentuan yang telah dibenarkan Syara’ dan disepakati.[1]

Sesuai dengan ketetapan hokum maksudnya ialah memenuhi persyaratan-persyaratan, rukun-rukun, dan hal-hal lain yang ada kaitannya dengan jula beli sehigga bila syarat-syarat dan rukunnya tidak terpenuhi berarti tidak sesuai dengan kehendak Syara’.[2]

Benda dapat mencakup pengertian barang dan uang, sedangkan sifat benda tersebut harus dapat dinilai, yakni benda-benda yang berharga dan dapat dibenarkan penggunaannya menurut Syara. Benda itu ada kalanya bergerak (dipindahkan) dan ada kalanya tetap (tidak dapat dipindahkan), ada yang dapat dibagi-bagi, ada kalanya tidak dapat dibagi-bagi, ada harta yang ada perumpamaannya (mitsli) dan tak ada yang menyerupainya (qimi) dan yang lain-lainnya. Penggunaan harta tersebut dibolehkan sepanjang tidak dilarang syara’. [3]

Jual beli menurut ulama Malikiyah ada dua macam :

  1. Jual beli dalam arti umum, suatu perikatan tukar-menukar sesuatu yang bukan kemanfaatan dan kenikmatan.
  2. Jual beli dalam arti khusus, ikatan tukar-menukar sesuatu yang bukan kemanfaatan dan bukan pula kelezatan yang mempunyai daya tarik, penukarannya bukan mas dan bukan pula perak, bendanya dapat direalisir dan ada seketika (tidak ditangguhkan), tidak merupakan utang baik barang itu ada dihadapan si pembeli maupun tidak, barang yang sudah diketahui sifat-sifatnya atau sudah diketahui terlebih dahulu[4]

B. Rukun dan Syarat Jual Beli

Rukun jual yaitu akad (ijab kabul), orang-orang yang berakad (penjual – pembeli), dan ma’kud ‘alaih (objek akad).

Akad sebagai simbol dari suatu kerelaan dalam kegiatan jual beli antara penjual dan pembeli sehingga menjadikan suatu jual beli itu sah atau tidak.  Akan tetapi menurut jumhur ulama’ pada suatu jual beli yang telah menjadi kebiasaan, misalnya jual beli sesuatu yang menjadi kebutuhan sehari-hari tidak disyaratkan adanya akad (ijab kabul).

Syarat-syarat sah ijab kabul :[5]

  1. jangan ada yang memisahkan, pembeli jangan diam saja setelah penjual menyatakan ijab dan sebaliknya.
  2. Jangan diselingi dengan kata-kata lain antara ijab dan kabul
  3. Beragama Islam, dikhususkan untuk pembeli saja dalam hal-hal tertentu  misalnya menjual hambanya yang islam kepada pembeli non muslim. Dengan alasan bahwa besar kemungkinan bahwa pembeli tersebut akan merendahkan hamba yang beragama Islam tersebut, sedangkan Allah Swt melarang orang-orang mukmin memberi jalan kepada orang kafir untuk merendahkan orang mukmin, firman Allah Swt :

t3 `s9ur Ÿ@yèøgs† ª!$# tûï̍Ïÿ»s3ù=Ï9 ’n?tã tûüÏZÏB÷sçRùQ$# ¸x‹Î6y™ ÇÊÍÊÈ

Dan Allah sekali-kali tidak memberi jalan bagi orang kafir untuk menghina orang mukmin. (An-Nisa : 141)

Rukun jual beli kedua adalah dua orang atau beberapa orang yang yang melakukan akad. Adapun syarat orang yang melakukan akad antara lain :

  1. baligh dan berakal agar tidak mudah ditipu orang.
  2. beragama Islam, sebagaimana telah dijelaskan diatas tentang jual beli dalam hal tertentu saja.

Rukun jual beli yang ketiga adalah benda-benda atau barang-barang yang diperjual belikan (ma’kud ‘alaih), syarat-syarat benda yang menjadi objek akad sebagai berikut :

  1. suci atau mungkin disusikan, tidak sah penjualan benda-benda najis seperti anjing, babi, dan lain-lain.
  2. memberi manfaat menurut syara’.
  3. jangan ditaklikan, dikaitkan atau digantungkan kepada hal-hal tertentu.
  4. tidak dibatasi oleh waktu tertentu.
  5. dapat diserahkan dengan cepat maupun lambat, tidak sah menjual binatang yang sudah lari dan tidak dapat ditangkap kembali.
  6. milik sendiri, tidak sah menjual barang milik orang lain tanpa seijin pemiliknya.
  7. diketahui, barang tersebut diketahui berat, ukuran dan lain sebagainya, tidak sah menjul barang yang meimbulkan keraguan salah satu pihak.

Al-Omar dan Abdel-Haq (1996) menjelaskan perlu adanya kejelasan dari obyek yang akan dijual belikan. Kejelasan tersebut paling tidak harus memenuhi empat hal sebagai berikut :

1.  Lawfulness. Artinya, barang tersebut dibolehkan oleh syariah Islam. Barang tersebut harus benar-benar halal dan jauh dari unsur-unsur yang diharamkan oleh Allah. Tidak boleh menjual barang atau jasa yang haram dan merusak

2.  Existence. Obyek dari barang tersebut harus benar-benar nyata dan bukan tipuan. Barang tersebut memang benar-benar bermanfaat dengan wujud yang tetap.

3.  Delivery. Artinya harus ada kepastian pengiriman dan distribusi yang tepat. Ketepatan waktu menjadi hal yang penting disini.

4.  Precise determination. Kualitas dan nilai yang dijual itu harus sesuai dan melekat dengan barang yang akan diperjualbelikan. Tidak diperbolehkan menjual barang yang tidak sesuai dengan apa yang diinformasikan pada saat promosi dan iklan.

C. Macam-macam jual beli

a. Ditinjau dari segi benda yang dijadikan objek :

  1. jual beli benda yang kelihatan, barang yang menjadi objek juak beli ada di depan penjual dan pembeli secara langsung.
  2. jual beli yang disebutkan sifat-sifatnya dalam perjanjian ialah jual beli salam (pesanan). Menurut kebiasaan para pedagang, salam adalah untuk jual beli yang tidak tunai (kontan), salam pada awalnya berarti meminjamkan barang atau sesuatu yang seimbang dengan harga tertentu, maksudnya adalah perjanjian yang penyerahan barang-barangnya ditangguhkan hingga masa tertentu sebagai imbalan harga yang telah ditetapkan ketika akad.
  3. jual beli yang tidak ada, jual beli yang dilarang oleh agama Islam karena barangnya masih gelap atau tidak tertentu sehingga dikhawatirkan barang tersebut adalah hasil curian atau barang titipan sehingga dapat menimbulkan kerugian salah satu pihak.[6] Termasuk juga penjualan umbi-umbian yang masih dalam tanah, atau buah-buahan yang masih hijau, karena termasuk perbuatan ghoror, Rasulullha Saw bersabda : Sesungguhnya Nabi Saw melarang penjualan anggur sebelum hitam dan dilarang penjualan biji-bijian sebelum mengeras.

Jika dilihat dari objek transaksinya, akad jual beli dapat pula dikategorikan menjadi 4 macam, yakni :[7]

  1. Bai’al-Muqayadlah, yaitu pertukaran/jual beli riil asset dengan riil asset seperti pertukaran pakaian dengan bahan makanan.
  2. Bai’ al-Muthlaq, yaitu pertukaran riil asset dengan financial asset seperti membeli sebungkus rokok dengan harga Rp. 8000,-.
  3. Ash-Sharf, yaitu pertukaran financial asset dengang financial asset seperti transaksi valas.
  4. As-Salam, yaitu pertukaran asset financial dengan riil asset, artinya harga/uang diserahkan pada saat kontrak sedangkan barang diseahkan kemudian hari.

b. Dilihat dari segi penentuan harganya, jual beli dapat dikategorikan kedalam 4 macam,yakni :[8]

  1. Bai’ al-Murabahah, yakni jual beli barang dengan harga pokok pembelian ditambah dengan tingkat keuntungan tertentu yang diinformasikan kepada pembeli.
  2. Bai’ at-Tauliyah, yakni jual beli barang dengan harga sama dengan harga pokok tanpa adanya penambahan atau pengurangan.
  3. Bai’ al-Wadli’ah, yakni jual beli barang dengan harga kurang dari harga pokok pembelian (terdapat tingkat kerugian tertentu)
  4. Bai’ al-Musawamah, yakni jual beli barang dengan adanya kesepakatan antara penjual dan pembeli tentang harga barang.

c. Ditinjau dari segi pelaku akad (subjek), jual beli terbagi menjadi 3 bagian sebagai berikut :

  1. dengan lisan, yaitu akad jual beli yang dilakukan dengan lisan, bagi orang bisu dapat menggunakan isyarat yang menampakkan kehendak.
  2. dengan perantara, yaitu penyampaian akad dengan utusan, perantara, atau surat menyurat yang sama hakekatnya dengan ijab kabul dengan ucapan.
  3. dengan perbuatan, yaitu jual beli yang dikenal dengan istilah mu’athah yaitu mengambil dan memberikan barang tanpa ijab dan kabul. Misalnya jual beli di swalayan yang setiap barangnya telah dibandrol harga tertentu oleh penjual, pembeli tanpa memerlukan ijab kabul tertentu cukup mengambil barang dan penjual menerima uang dari sang pembeli .

D. Jual beli yang dilarang dan batal hukumnya adalah sebagai berikut :

  1. jual beli barang yang najis
  2. jual beli sperma hewan.
  3. jual beli anak binatang yang masih ada dalam perut induknya.
  4. jual beli dengan muhaqallah, yaitu menjual tanaman yang masih diladang atau disawah, dilarang karena ada persangkaan riba.
  5. jual beli dengan mukhadharah, yaitu menjual buah-buahan yang belum pantas untuk dipanen.
  6. jual beli dengan munabadzah, yaitu jual beli dengan melempar-lempar barang, dilarang karena mengandung tipuan.
  7. jual beli dengan muammassah, yaitu jual beli secara sentuh menyentuh suatu barang pada waktu siang atau malam dengan pengertian orang yang menyentuh itu telah membeli barang tersebut, dilarang karena mengandung tipuan yang dapat merugikan salah satu pihak.
  8. jual beli dengan muzabanah, yaitu menjual buah yang basah dengan buah yang kering dengan ditakar dengan takaran yang sama.
  9. menentukan dua harga untuk satu barang yang diperjual belikan. Menurut Syafi’i penjualan ini mengandung 2 arti yaitu “Aku jual buku ini $ 10 dengan tunai atau $15 dengan kredit” atau “Aku jual buku ini kepadamu dengan syarat kamu harus menjual tasmu padaku”

10.  jual beli gharar, yaitu jual beli yang samara sehingga ada kemungkinan terjadi penipuan, seperti menjual kacang tanah yang atasnya kelihatan bagus tetapi dibawahnya jelek.

E. Khiar dalam jual beli :

Dalam agama Islam dibolehkanlah khiar dalam jual beli, apakah akan meneruskan jual beli atau akan membatalkannya. Karena terjadinya oleh suatu hal, khiar dibagi kedalam tiga macam :

  1. Khiar Majlis

Artinya antara penjual dan pembeli boleh memili akan melanjutakan jual beli atau membatalkannya selama keduanya masih dalam satu tempat atau majelis.

2.   Khiar syarat

Yaitu penjualan yang didalamnya disyaratkan sesuatu baik oleh penjual dan pembeli, seperti seseorang berkata “saya jual rumah ini dengan harga seratus juta rupiah dengan syarat khiar selama tiga hari.

3.  Khiar ‘aib

Artinya dalam jual beli ini disyaratkan kesempurnaan benda-benda yang dibeli.

F. Lelang (muzayadah)

Penjualan denga cara lelang seperti ini dibolehkan dalam agama islam karena dijelaskn dalam satu keterangan yang artinya : “Dari Anas ra, Ia berkata Rasulullah SAW.menjual sebuah pelana dan sebuah mangkok air dengan berkata ; siapa yang ingin membeli  pelana dan mangkok ini? Seorang laki-laki menyahut; aku bersedia membelinya seharga satu dirham. Lalu nabi berkata lagi, siapa yang berani menambahi? Maka diberi dua dirham oleh seorang laki-laki kepada beliau, lalu dijuallah kedua benda itu kepada laki-laki tadi.(HR. Tirmizi)

G. Kesimpulan

Allah swt. mensyariatkan jual beli sebagai pemberian keluangan dan keleluasaan dari-Nya untuk hamba-hamba-Nya. Karena semua manusia secara pribadi mempunyai kebutuhan berupa sandang, pangan dan sebagainya. Kebutuhan seperti ini tidak pernah terputus selama manusia masih hidup. Tidak seorangpun dapat memenuhi hajat hidupnya sendiri, karena itu ia dituntut berhubungan dengan lainnya. Dalam hubungan ini tidak ada satu hal pun yang lebih sempurna dari pertukaran; dimana seseorang memberikan apa yang ia miliki untuk kemudian ia memperoleh sesuatu yang berguna dari orang lain sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Jika akad telah berlangsung, segala rukun dan syaratnya dipenuhi, maka konsekuensinya; penjual memindahkan barang kepada pembeli dan pembelipun memindahkan miliknya kepada penjual sesuai dengan harga yang disepakati, setelah itu masing-masing mereka halal menggunakan barang yang pemiliknya yang dipindahkan tadi di jalan yang dapat dibenarkan syariat.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa Allah swt. telah mensyariatkan jual beli, sebagai tujuan agar diantara umat saling berhubungan atau saling bermuamalah antara satu dengan lainnya, dan saling memenuhi kebutuhan secara timbal balik di antara mereka.

Daftar Pustaka

Dimyaudin Djuwaini. Pengantar Fiqh Mu’amalah. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 2008.

Suhendi, Hendi.  Fiqh Mu’amalah. Jakarta : PT Raja Garfindo Persada, 2008.

http://meetabied.wordpress.com/2009/10/30/tinjauan-tentang-hukum-jual-beli-dalam-islam/

http://www.pesantrenvirtual.com/index.php/ekonomi-syariah/1062-jual-beli-dalam-pandangan-islam

http://zanikhan.multiply.com/journal/item/495/JUAL_BELI_DALAM_ISLAM


[1] Dr. H. Hendi Suhendi,  Fiqh Mu’amalah. Jakarta : PT Raja Garfindo Persada, 2008. hlm. 69.

[2] Ibid.

[3] Ibid.

[4] Ibid.

[5] Ibid. hlm 71.

[6] Ibid. hlm. 76.

[7] Dimyaudin Djuwaini. Pengantar Fiqh Mu’amalah. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 2008. hlm. 102.

[8] Ibid. hlm. 103.

A. PENGERTIAN RUJUK

Rujuk artinya kembali. Menurut syara’ adalah kembalinya seorang suami kepada mantan istrinya dengan perkawinan dalam masa iddah sesudah ditalak raj’iy.[1]

Firman Allah :

Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’[2]. tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah. dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya[3] dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. Al-Baqarah:  228)

Bila seorang suami telah menceraikan istrinya, maka ia boleh  bahkan dianjurkan untuk rujuk kembali dengan syarat bila keduanya betul-betul hendak berbaikan kembali (islah). Dengan arti bahwa keduanya benar-benar sama-sama saling mengerti dan penuh rasa tanggung jawab antara satu dengan lainnya. Akan tetapi bila suami mempergunakan kesempatan rujuk itu bukan untuk berbuat islah, bahkan bertujuan untuk menganiaya tanpa memberi nafkah, atau semata-mata untuk menahan istri agar jangan menikah dengan orang lain, maka suami tersebut tidak berhak untuk merujuk istrinya itu, malah haram hukumnya.

B. MACAM-MACAM RUJUK

Rujuk dapat dibagi menjadi 2, yaitu :

  1. Rujuk untuk talak 1 dan 2 (talak raj’iy)

Dalam suatu hadist disebutkan : dari Ibnu Umar r.a. waktu itu ia ditanya oleh seseorang, ia berkata, “Adapun engkau yang telah menceraikan ( istri) baru sekali atau dua kali, maka sesungguhnya Rasulullah SAW telah menyuruhku merujuk istriku kembali” (H.R. Muslim)

Karena besarnya hikmah yang terkandung dalam ikatan perkawinan, maka bila seorang suami telah menceraikan istrinya, ia telah diperintahkan oleh Allah SWT agar merujukinya kembali.

Firman  Allah SWT :

Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati akhir iddahnya, Maka rujukilah mereka dengan cara yang ma’ruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma’ruf (pula). janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudharatan, Karena dengan demikian kamu menganiaya mereka[4]. barangsiapa berbuat demikian, Maka sungguh ia Telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah permainan, dan ingatlah nikmat Allah padamu, dan apa yang Telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab dan Al hikmah (As Sunnah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. dan bertakwalah kepada Allah serta Ketahuilah bahwasanya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (Q.S. Al-Baqarah : 231)

  1. Rujuk untuk talak 3 (talak ba’in)

Hukum rujuk pada talak ba’in sama dengan pernikahan baru, yaitu tentang persyaratan adanya mahar, wali, dan persetujuan. Hanya saja jumhur berpendapat bahwa utuk perkawinan ini tidak dipertimbangkan berakhirnya masa iddah.

C. SYARAT-SYARAT RUJUK

Syarat-syarat rujuk yang harus dipenuhi antara lain :[5]

  1. Saksi untuk rujuk

Fuqaha berbeda pendapat tentang adanya saksi dalam rujuk, apakah menjadi syarat sahnya rujuk atau tidak. Imam Malik berpendapat bahwa saksi dalam rujuk adalah disunahkan sedangkan Imam Syafi’i mewajibkan.

  1. Rujuk dengan kata-kata atau pergaulan istri

Terdapat perbedaan pendapat pula dalam hal ini, sebagai berikut:

  • Menurut pendapat Imam Malik mengatakan bahwa rujuk dengan pergaulan, istri hanya dianggap sah apabila diniatkan untuk merujuk. Karena bagi golongan ini, perbuatan disamakan dengan kata-kata dan niat.
  • Menurut pendapat Imam Abu Hanifah, yang mempersoalkan rujuk dengan pergaulan, jika ia bermaksud merujuk dan ini tanpa niat.
  • Menurut pendapat Imam Syafi’i, bahwa rujuk itu disamakan dengan perkawinan dan Allah SWT memerintahkan untuk diadakan persaksian, sedang persaksian hanya terdapat dalam kata-kata.
  1. Kedua belah pihak yakin dapat hidup bersama kembali dengan baik
  2. Istri telah dicampuri

Jika istri yang dicerai belumpernah dicampuri, maka tidak sah rujuk, tetapi harus dengan perkawinan baru lagi

  1. Istri baru dicerai dua kali

Jika istri telah ditalak tiga maka tidak sah rujuk lagi, melainkan harus telah menikah dengan orang lain kemudian bercerai, barulah boleh rujuk kembali dengan akad yang baru.

Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) Mengetahui.(Q.S. Al-Baqarah : 230)

  1. Istri yang dicerai dalam masa iddah raj’iy

Jika bercerainya dari istri karena fasakh atau khulu’ atau talak ba’in atau istri yang dicerai belum pernah dicampuri, maka rujuknya tidak sah.

D. RUKUN RUJUK

  1. Ada suami yang merujuk atau wakilnya
  2. Ada istri yang dirujuk dan sudah dicampuri
  3. Kedua belah pihak sama-sama suka dan ridho
  4. Dengan pernyataan ijab dan qobul

Misalnya, “Aku rujuk engkau pada hari ini” atau “Telah kurujuk istriku yang bernama ………… pada hari ini” dan lain sebagainya yang semakna.

E. PROSEDUR RUJUK

Pasangan mantan suami istri yang akan melakukan rujuk harus datang menghadap PPN (Pegawai Pencatat Nikah) atau Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) yang mewilayahi tempat tinggal istri dengan membawa surat keterangan untuk rujuk dari Kepala Desa/Lurah serta Kutipan dari Buku Pendaftaran Talak/Cerai atau Akta Talak/Cerai.[6]

Adapun prosedurnya adalah sebagai berikut :[7]

  1. Di hadapan PPn suami mengikrarkan rujuknya kepada istri disaksikan minimal dua orang saksi
  2. PPN mencatatnya dalam Buku Pendaftaran Rujuk, kemudian membacanya dihadapan suami-istri tersebut terhadap saksi-saksi, dan selanjutnya masing-masing membubuhkan tanda tangan.
  3. PPN membuatkan kutipan Buku Pendaftaran Rujuk rangkap dua dengan nomor dan kode yang sama
  4. Kutipan diberikan kepada suami-istri yang rujuk
  5. PPN membuat surat keterangan tentang terjadinya rujuk dan mengirimnya ke Pengadilan Agama yang mengeluarkan akta talak yang bersangkutan
  6. Suami-istri dengan membawa Kutipan Buku Pendaftaran Rujuk datang ke Pengadilan Agama tempat terjadinya talak untuk mendapatkan kembali Akta Nikahnya masing-masing
  7. Pengadilan Agama memberikan Kutipan Akta Nikah yang bersangkutan dengan menahan Kutipan Buku Pendaftaran Rujuk.

[1] Drs. Slamet Abidin & Drs. H. Aminuddin, Fiqh Munakahat 2, Bandung : Pustaka Setia, 1999. hlm. 149.

[2] Quru’ dapat diartikan suci atau haidh

[3] Hal Ini disebabkan Karena suami bertanggung jawab terhadap keselamatan dan kesejahteraan rumah tangga (lihat surat An Nisaa’ ayat 34).

[4] Umpamanya: memaksa mereka minta cerai dengan cara khulu’ atau membiarkan mereka hidup terkatung-katung.

[5] Drs. Slamet Abidin & Drs. H. Aminuddin, Fiqh Munakahat 2, Bandung : Pustaka Setia, 1999. hlm. 151.

[6] Ibid. hlm. 155.

[7] Ibid.

Oleh Ustadz Agus Purnomo, Lc
(Al Azhar University Mesir)

Tempat : Kediaman Pak Bib

Moderator : Azwar M Yunus

An Nisa – 49:

Sunnatullah di permukaan bumi adalah berpasangan; siang dan malam, positif dan negative, dan lelaki dan perempuan.

Sebagai Suami

- QS : ….. “ditinggikannya derjat lelaki (suami), …..”

- QS : ……” pergaulilah mereka dengan makruf …”

Kewajiban dan Hak berumah tangga dimulai dari selesainya ijab dan qabul.

Kewajiban Suami:

1. Adil :

  • Kodrat wanita ‘bengkok’ : dikeraskan bisa patah, dilunakkan tetap bengkok.
  • Dalam memutuskan keputusan yg berhubungan dg rumah tangga dilarang dalam keadaan marah, karena yang dominan adalah hawa nafsu.
  • Fenomena poligami di dunia arab telah didukung oleh kemampanan ekonomi suami, sehingga sikap adil dalam pemberian nafkah ekonomo bisa diberikan maksimal. Adil juga dalam kasih sayang thd istri-istri.

2. Pemimpin

  • Visi dan misi berumah tangga adalah mewujudkan keluarga Sakinah Mawadadah wa Rahmah.
  • Juga untuk mewujudkan keluarga yang dekat da mengenal Allah swt, dan menjadi tanggung jawab suami untuk membawa istri dan anak-anak kepada Tauhid sebagai pertanggungjawaban nanti di akhirat (QS : Wahai orang –orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka).

3. Pemberi Nafkah

Ternyata suami punya tugas berat terhadap keluarganya, mencari nafkah, mengelola rumah tangga. Seyogyanya suami mampu memberikan nafkah sebagaimana sang istri terima ketika masa gadisnya oleh orang tuanya. TAPI Jika isteri mampu bersikap sabar dengan segala keterbatasan suami, itulah kebaikan yang besar bagi sang istri.

4. Pendidikan Isteri

Istri juga berhak mendapatkan pendidikan, jika suami sudah s3 tak salah pula untuk menyekolahkan istri lebih tinggi. Jika istri tak bisa mengaji menjadi kewajiban suami untuk mengajarkan atau mencarikan lembaga pendidikan supaya bisa menjadi bisa mengaji.

5. Pelindung Keluarga

6. Bergaul dengan lembah lembut.

‘ Waassiruhunna bil ma’ruf (pergauilah mereka dengan ma’ruf)

Kelembutan suami dalam berhubungan dengan kolega kantor hendaknya juga menjadi sikap yang sama pada istri di rumah tangga.

Tipe-tipe keluarga: Keluarga kayak kubur (sunyi, senyap), keluarga masjid ( istri dan suami saling mengajak kepada Allah).

7. Sabar

Istri yang baik ideal:

  • Netika suami memandangnya, enak dipandang.
  • Menaati suami bila diperintah selagi bukan dalam kemaksiyatan. ( seandainya manusia deperbolehkan sujud pada manusia, maka istri sujud pada suami)
  • Memelihara diri, harta dan anak

Kewajiban Isteri

1. Melayani Suami

2. Mengatur rumah tangga

3. Manjaga akhlak diri, suami dan keluarga

4. Menyenangkan hati suami.

Walau repot mengurus anak belanja dll, tapi ketika suami pulang disambut dengan wajah menyenangkan.

5. Pendorong dan Pemberi Motivasi

Kegagalan dan kesuksesan bagi suami di luar rumah dtentukan juga oleh istri.

Hak Suami Kewajiban Istri:

1. Tak Seorang pun boleh masuk ke kamar tidur suami istri kecuali seizin suami
2. Tak memasukkan ke rumah orang yang tak disukai suami ke dalam rumah.

Harta yang paling berharga, perhiasan yang paling indah di dunia adalah istri sholehah.

Beberapa tip prakis berumah tangga :

Ajaklah keluarga anda jalan-jalan, rekreasi walau ke tempat yang tak mahal2.

Sebuah intisari:

Berumah tangga bukanlah transaksi hak dan kewajiban suami istri, sehingga rumah tangga berjalan mekanis. Tapi adalah ladang amal sholeh bagi kedunya dalam rangka mencapai ridho Allah.

Sesi Tanya jawab

Dari pak Kamarza:

Poligami sebenarnya berat sekali. Karena kewajiban suami adalah mendidik istri dan anak-anak menuju Allah swt. Sementara trend poligami saat ini lebih karena hasrat nafsu, padahal suami haruslah yakin bahwa selama ini telah sukses dalam kewajibannya kepada istrinya.

Pak Dudy R:

Kewajiban orang tua terhadap mendidik anak bahkan sampai anak dewasa bahkan ketika ia telah berumah tangga ayah juga harus mendidik anak agar selalu dalam koridor syar’i

  • Suami istri, hendaknya saling menumbuhkan suasana mawaddah dan rahmah. (Ar-Rum: 21)
  • Hendaknya saling mempercayai dan memahami sifat masing-masing pasangannya. (An-Nisa': 19 – Al-Hujuraat: 10)
  • Hendaknya menghiasi dengan pergaulan yang harmonis. (An-Nisa': 19)
  • Hendaknya saling menasehati dalam kebaikan. (Muttafaqun Alaih)
  • Adab Suami Kepada Istri

  • Suami hendaknya menyadari bahwa istri adalah suatu ujian dalam menjalankan agama. (At-aubah: 24)
  • Seorang istri bisa menjadi musuh bagi suami dalam mentaati ALLAH dan Rasul-Nya. (At-Taghabun: 14)
  • Hendaknya senantiasa berdo’a kepada Allah meminta istri yang sholehah. (AI-Furqan: 74)
  • Diantara kewajiban suami terhadap istri, ialah: Membayar mahar, Memberi nafkah (makan, pakaian, tempat tinggal), Menggaulinya dengan baik, Berlaku adil jika beristri lebih dari satu. (AI-Ghazali)
  • Jika istri berbuat ‘Nusyuz’, maka dianjurkan melakukan tindakan berikut ini secara berurutan: (a) Memberi nasehat, (b) Pisah kamar, (c) Memukul dengan pukulan yang tidak menyakitkan. (An-Nisa': 34) …
  • ‘Nusyuz’ adalah: Kedurhakaan istri kepada suami dalam hat ketaatan kepada Allah.

  • Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah, yang paling baik akhlaknya dan paling ramah terhadap istrinya/keluarganya. (Tirmudzi)
  • Suami tidak boleh kikir dalam menafkahkan hartanya untuk istri dan anaknya.(Ath-Thalaq: 7)
  • Suami dilarang berlaku kasar terhadap istrinya. (Tirmidzi)
  • Hendaklah jangan selalu mentaati istri dalam kehidupan rumah tangga. Sebaiknya terkadang menyelisihi mereka. Dalam menyelisihi mereka, ada keberkahan. (Baihaqi, Umar bin Khattab ra., Hasan Bashri)
  • Suami hendaknya bersabar dalam menghadapi sikap buruk istrinya. (Abu Ya’la)
  • Suami wajib menggauli istrinya dengan cara yang baik. Dengan penuh kasih sayang, tanpa kasar dan zhalim. (An-Nisa': 19)
  • Suami wajib memberi makan istrinya apa yang ia makan, memberinya pakaian, tidak memukul wajahnya, tidak menghinanya, dan tidak berpisah ranjang kecuali dalam rumah sendiri. (Abu Dawud).
  • Suami wajib selalu memberikan pengertian, bimbingan agama kepada istrinya, dan menyuruhnya untuk selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya<. (AI-Ahzab: 34, At-Tahrim : 6, Muttafaqun Alaih)
  • Suami wajib mengajarkan istrinya ilmu-ilmu yang berkaitan dengan wanita (hukum-hukum haidh, istihadhah, dll.). (AI-Ghazali)
  • Suami wajib berlaku adil dan bijaksana terhadap istri. (An-Nisa': 3)
  • Suami tidak boleh membuka aib istri kepada siapapun. (Nasa’i)
  • Apabila istri tidak mentaati suami (durhaka kepada suami), maka suami wajib mendidiknya dan membawanya kepada ketaatan, walaupun secara paksa. (AIGhazali)
  • Jika suami hendak meninggal dunia, maka dianjurkan berwasiat terlebih dahulu kepada istrinya. (AI-Baqarah: ?40)
  • Adab Isteri Kepada Suami

  • Hendaknya istri menyadari dan menerima dengan ikhlas bahwa kaum laki-laki adalah pemimpin kaum wanita. (An-Nisa': 34)
  • Hendaknya istri menyadari bahwa hak (kedudukan) suami setingkat lebih tinggi daripada istri. (Al-Baqarah: 228)
  • Istri wajib mentaati suaminya selama bukan kemaksiatan. (An-Nisa': 39)
  • Diantara kewajiban istri terhadap suaminya, ialah: a. Menyerahkan dirinya, b. Mentaati suami, c. Tidak keluar rumah, kecuali dengan ijinnya, d. Tinggal di tempat kediaman yang disediakan suami e. Menggauli suami dengan baik. (Al-Ghazali)
  • Istri hendaknya selalu memenuhi hajat biologis suaminya, walaupun sedang dalam kesibukan. (Nasa’ i, Muttafaqun Alaih)
  • Apabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur untuk menggaulinya, lalu sang istri menolaknya, maka penduduk langit akan melaknatnya sehingga suami meridhainya. (Muslim)
  • Istri hendaknya mendahulukan hak suami atas orang tuanya. ALLAH SWT. mengampuni dosa-dosa seorang Istri yang mendahulukan hak suaminya daripada hak orang tuanya. (Tirmidzi)
  • Yang sangat penting bagi istri adalah ridha suami. Istri yang meninggal dunia dalam keridhaan suaminya akan masuk surga. (Ibnu Majah, TIrmidzi)
  • Kepentingan istri mentaati suaminya, telah disabdakan oleh Nabi saw: “Seandainya dibolehkan sujud sesama manusia, maka aku akan perintahkan istri bersujud kepada suaminya. .. (Timidzi)
  • Istri wajib menjaga harta suaminya dengan sebaik-baiknya. (Thabrani)
  • Istri hendaknya senantiasa membuat dirinya selalu menarik di hadapan suami(Thabrani)
  • Istri wajib menjaga kehormatan suaminya baik di hadapannya atau di belakangnya (saat suami tidak di rumah). (An-Nisa': 34)
  • Ada empat cobaan berat dalam pernikahan, yaitu: (1) Banyak anak (2) Sedikit harta (3) Tetangga yang buruk (4) lstri yang berkhianat. (Hasan Al-Bashri)
  • Wanita Mukmin hanya dibolehkan berkabung atas kematian suaminya selama empat bulan sepuluh hari. (Muttafaqun Alaih)
  • Wanita dan laki-laki mukmin, wajib menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluannya. (An-Nur: 30-31)
  • Isteri Sholehah

  • Apabila seorang istri, menjaga shalat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramadhan, memelihara kemaluannya, dan mentaati suaminya, niscaya Allah swt. akan memasukkannya ke dalam surga. (Ibnu Hibban)
  • Istri sholehah itu lebih sering berada di dalam rumahnya, dan sangat jarang ke luar rumah. (Al-Ahzab : 33)
  • Istri sebaiknya melaksanakan shalat lima waktu di dalam rumahnya. Sehingga terjaga dari fitnah. Shalatnya seorang wanita di rumahnya lebih utama daripada shalat di masjid, dan shalatnya wanita di kamarnya lebih utama daripada shalat di dalam rumahnya. (lbnu Hibban)