Akhlak Karimah (Kajian Tafsir Ahkam)

Posted: Juli 10, 2010 in Uncategorized

A. PENDAHULUAN

Dalam Kamus Besar bahasa Indonesia, akhlak diartikan sebagai budi pekerti atau kelakuan. Dalam Bahasa Arab kata akhlak (akhlaq) di­artikan sebagai tabiat, perangai, kebiasaan, bahkan agama. Meskipun kata akhlak berasal dari Bahasa Arab, tetapi kata akhlak tidak terdapat di dalam Al Qur’an. Kebanyakan kata akhlak dijumpai dalam hadis. Satu-satunya kata yang ditemukan semakna akhlak dalam al-Qur’an adalah bentuk tunggal, yaitu khuluq, tercantum dalam surat al-Qalam ayat 4:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

yang artinya: Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi pekerti yang agung. Sedang­kan hadis yang sangat populer menyebut akhlak adalah hadis riwayat Malik, Innama bu’itstu liutammima makarima al akhlaqi, yang artinya: Bahwasanya aku (Muhammad) diutus menjadi Rasul tak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak mulia.

Mengapa dalam hadits di atas kata “akhlak” di sifati dengan kata “karimah“? Ini menunjukkan bahwa kemuliaan itu erat kaitannya dengan akhlak mulia. Kemuliaan itu tidak disebabkan karena ketampanan, kekayaan, kedudukan, tetapi kemuliaan itu disebabkan oleh akhlak mulia. Meskipun seseorang itu miskin, tak punya apa-apa, tak berkedudukan, jika ia berakhlak mulia, niscaya ia akan memiliki kemuliaan. Jika ada seorang pejabat, konglomerat, uangnya banyak, mobilnya mewah, rumahnya seperti istana, ia dimulyakan orang sebab harta dan kedudukannya, maka kemuliaannya adalah semu. Kemulyaan yang disebabkan oleh harta benda atau kedudukan adalah kemuliaan yang sifatnya semu. Jika hartanya habis, kedudukannya berakhir, dan tanda tangannya tidak laku, maka lenyap sudah kemulyaannya. Orang tidak akan memandang ketampanannya, kekayaannya, kedudukannya, melainkan orang itu melihat pada akhlaknya. Karena itu, kemulyaan itu sangat erat dengan akhlak karimah. Kerusakan-kerusakan yang terjadi, musibah dan bencana yang tak kunjung berhenti, penyebabnya adalah bobroknya akhlak.

Berakhlak karimah itu hanya berlaku bagi manusia, bukan untuk hewan atau tumbuhan. Karena itu, saat pohon kelapa tumbang menimpa masjid, tidak ada undang-undang yang akan menghukum pohon kelapa itu. Demikian juga, misalkan ada seekor sapi betina berjalan kelihatan pahanya, maka ia tidak perlu dinasehati. Sebab, akhlak hanya berlaku dan untuk manusia saja.

Menurut Imam Gazali, akhlak adalah keadaan yang bersifat batin dimana dari sana lahir perbuatan dengan mudah tanpa dipikir dan tanpa dihitung resikonya (al khuluqu haiatun rasikhotun tashduru ‘anha al-a’fal bi suhulatin wa yusrin min ghoiri hajatin awfikrin wa ruwiyyatin. Sedangkan ilmu akhlak adalah ilmu yang berbicara tentang baik dan buruk dari suatu perbuatan. Dari definisi itu maka dapat difahami bahwa istilah akhlak adalah netral, artinya ada akhlak yang terpuji (al-akhlaq al-mah­mudah) dan ada akhlak yang tercela (al-akhlaq al-mazmumah).

Berhias dengan akhlak mulia pertanda imannya sempurna. Sebab, di antara kesempurnaan iman adalah kesempurnaan akhlak. Sebagaimana yang telah di sabdakan oleh Rasulullah saw:

 
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Abu Dawud).
Seorang muslim yang baik, tentu saja ia akan berusaha untuk menghias diri dengan akhlak karimah dengan mensuritauladani Rasulullah dalam kehidupan. Ia berbicara pada saat dan tempat yang tepat dan ucapannya sarat dengan hikmah. Kata-katanya mengandung kelembutan, kebenaran, seruan, ide, gagasan, zikir, solusi, dan ilmu yang menyejukan hati orang yang mendengarnya. Ia lebih banyak diam dari pada banyak berbicara tetapi banyak kesalahan. Pandangannya tertunduk dari pandangan yang haram. Ia murah senyum tulus ketika bertemu dengan siapa pun. Ia hindari perkataan dan sikap yang mengandung kesombongan. Ketika berbicara ia jauhi perkataan kotor dan mencaci orang. Ia sedikit berbicara, tetapi banyak bekerja. Amal dan pekerjaannya jauh dari pamrih. Tawadhu’ di hadapan siapa pun. Khusyu’ dan tenang manakala beribadah. Ia menyayangi setiap orang seperti ia menyayangi diri sendiri. Arif dan bijaksana dalam memutuskan sesuatu. Ia segera menyambung hubungan yang sempat terputus. Ia maafkan orang yang berbuat dholim kepadanya. Aib dan kekurang orang tak pernah ia buka di muka umum. Introspeksi diri untuk memperbaiki diri selalu ia lakukan. Ia benci dan cinta karena Allah. Susah senang ia terima dengan lapang dada. Sabar ketika di timpa musiab. Ia mendahulukan keramahan dari pada kemarahan. Hatinya berontak jika ada hewan yang teraniaya. Begitu besar kasih sayangnya terhadap makhluk ciptaan Allah.

Ayat-ayat
 
“Dan sesungguhnya engkau sangat berbudi luhur” (QS. al-Qalam : 4)

“Sungguh pada diri Rasulullah saw itu terdapat suri tauladan yang baik bagi kamu, (yaitu) bagi siapa yang mengharap (rahmat) Allah dan (kebahagiaan) hari kiyamat dan ia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab:21)

“Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh”. (QS. Al-A’raaf: 199)

 
 
 
 
 
 

B. Asbabun nuzul :
1. Al-Qalam : 4
            Sa’ad bin Hisyam datang kepada Siti ‘Aisyah r.a. dan bertanya, “Ceritakanlah kepadaku bagaimana akhlak Rasulullah Saw?” Maka jawab ‘Aisyah, “Akhlak Nabi Saw itu adalah al-Qur’an, Apakah anda tidak membaca ayat : Wa innaka la’alla khuluqin ‘adhim? Sesungguhnya engkau berakhlak luhur, berbudi tinggi, yakni selalu menurut dan melaksanakan tuntunan al-Qur’an dan menghentikan larangannya disamping sifat-sifat aslinya yaitu malu, murah hati, dermawan, berani, sabar, dan sopan santun.”
            Anas bin Malik r.a. berkata, “Saya telah menjadi pelayan Rasulullah Saw selama sepuluh tahun, beliau belum pernah membentak saya atau menyalahkan perbuatan yang saya lakukan, tidak pernah menegur dengan kata ; mengapa anda berbuat itu atau mengapa tidak kau perbuat itu?”
            Nabi Saw adalah sebaik-baik manusia akhlak budi pekertinya, dan belum pernah saya menyentuh sutera dan beludru yang lebih halus disbanding dengan tangan Rasulullah Saw. Belum pernah berbau sesuatu yang lebih harum daripada peluh Rasulullah Saw. (HR Bukhari dan Muslim)
            ‘Aisyah r.a. berkata, “Tangan Rasulullah Saw tidak pernah digunakan memukul istri atau pelayan, budak bahkan belum pernah digunakan memukul sesuatu kecuali dalam perang fisabilillah, dan tiada disuruh memilih dua macam melainkan memilih yang lebih ringan, selama tidak berupa dosa dan bila ternya dosa maka ia sangat jauh daripadanya, dan tidak suka membalas untuk kepentingan dirinya, kecuali jika terjadi pelanggaran terhadap hukum agama ia sangat marah semata-mata karena Allah (HR Ahmad)
            Ali bin Abi Thalib pernah berkata tentang diri Rasulullah saw: “Barang siapa memandangnya sepintas lalu, akan merasa enggan kepadanya (sebab kewibawan beliau), tetapi barang siapa telah bergaul baik-baik dengannya, akan timbul cinta kepadanya”.

2. Al-Ahzab:21

Allah swt berfirman, “Mengapa kamu tidak berteladan kepada Rasulullah Saw, betapa ia menghadapi musuh dan perang khandaq (ahzab) dengan penuh kesabaran, ketetapan hati, keberanian dan kepercayaan penuh akan pertolongan Allah yang dijanjikan. Bukanlah Allah telah menjadikan dalam diri Rasulullah suri tauladan yang baik bagi para pengikutnya, orang-orang mukmin yang mengharapkan rahmat dan ridha Allah dan yang beriman kepada hari kiamat serta selalu ingat kepada Allah”

 
3. Al-a’raf : 199
            Ubay berkata : Ketika turun ayat ini, Nabi Muhammad Saw bertanya kepada Jibril as. “Apakah maksud ini hai Jibril?”  Jawab Jibril, “Sesungguhnya Allah menyuruhmu memaafkan terhadap orang-orang yang menganiayamu, dan memberi kepada oang yang bakhil kepadamu dan menghubungi orang yang memutus hubungan kepadamu”

C. Munasabah : 
            Al-Qalam ayat 4 menjelaskan bahwa Nabi Muhammad Saw itu memiiki budi pekerti yang luhur, kemudian dalam Al-Ahzab ayat 21 dijelaskanlah bahwa Nabi Muhammad Saw itu adalah sebaik-baik tauladan dalam sifat dan akhlak beliau. Sedangkan dalam Al-A’raf ayat 199 dijelaskan tentang bangunan dari akhlakul karimah.
Ketiga ayat tersebut memilki kaitan yang sangat erat dalam tinjauan pembelajaran dasar-dasar akhlak karimah.

D. Kandungan Ayat :
            Ayat al-A’raf 199 menurut Az-Zamaksyari dan Ibnu Asyur termasuk kategori “Ajma’u Ayatin fi Makarimil Akhlak”, ayat yang paling komprehensif dan lengkap tentang bangunan akhlak yang mulia, karena bangunan sebuah akhlak yang terpuji tidak lepas dari tiga hal yang disebutkan oleh ayat diatas, yaitu mema’afkan atas tindakan dan prilaku yang tidak terpuji dari orang lain, senantiasa berusaha melakukan dan menyebarkan kebaikan, serta berpaling dari tindakan yang tidak patut.
            Secara tematis, mayoritas tema surah Al-A’raaf memang berbicara tentang prilaku dan perbuatan tidak bermoral dan jahil orang-orang musyrik, maka menurut Ibnu ‘Asyur, sesungguhnya ayat ini merupakan solusi yang ditawarkan oleh Al-Qur’an atas perilaku umumnya orang-orang musyrik. Bahkan posisi ayat ini yang berada di akhir surah Al-A’raaf sangat tepat dijadikan sebagai penutup surah dalam pandangan Sayid Quthb dalam tafsir Fi Dzilalil Qur’an karena merupakan arahan dan taujih langsung Allah swt kepada Rasul-Nya Muhammad saw dan orang-orang yang beriman bersama beliau saat mereka berada di Makkah dalam menghadapi kebodohan dan kesesatan orang-orang jahiliyah di Makkah pada periode awal perkembangan Islam
            Secara redaksional, perintah mema’afkan dalam ayat Makarimil Akhlak di atas bersifat umum dalam segala bentuknya. Ibnu ‘Asyur menyimpulkan hal tersebut berdasarkan analisa bahasa pada kata “Al-Afwu” yang merupakan lafadz umum dalam bentuk “ta’riful jinsi” (keumuman dalam jenis dan bentuk mema’afkan). Mema’afkan disini bisa diartikan sebagai sikap berlapang dada, tidak membalas prilaku buruk orang, bahkan mendoakan kebaikan untuk mereka. Namun tetap keumuman Al-Afwu disini tidak mutlak dalam setiap keadaan dan setiap waktu, seperti terhadap orang yang membunuh sesama muslim dengan sengaja tanpa alasan yang benar, atau terhadap orang yang melanggar aturan Allah swt secara terang-terangan berdasarkan nash Al-Qur’an dan hadits yang mengecualikan keumuman tersebut.
            Demi keutamaan dan keagungan kandungan ayat diatas, Rasulullah saw menjelaskannya sendiri dalam bentuk tafsir nabawi yang tersebut dalam musnad Imam Ahmad dari Uqbah bin Amir, bahwa Rasulullah saw pernah memberitahukan kepadanya tentang kemuliaan akhlak penghuni dunia. Rasulullah saw berpesan: “Hendaklah kamu menghubungkan tali silaturahim dengan orang yang justru berusaha memutuskannya, memberi kepada orang yang selalu berusaha menghalangi kebaikan itu datang kepadamu, serta bersedia mema’afkan terhadap orang yang mendzalimimu”.
            Penafsiran Rasulullah saw terhadap ayat diatas sangat jelas korelasinya. Seseorang yang menghubungkan silaturahim kepada orang yang memutuskannya berarti ia telah mema’afkan. Seseorang yang memberi kepada orang yang mengharamkan pemberian berarti ia telah datang kepadanya dengan sesuatu yang ma’ruf. Serta seseorang yang memaafkan kepada orang yang telah berbuat aniaya berarti ia telah berpaling dari orang-orang yang jahil.
            Bahkan secara aplikatif, perintah ayat ini mampu membendung emosi Umar bin Khattab saat mendengar kritikan pedas Uyainah bin Hishn atas kepemimpinan Umar. Uyainah berkata kepada Umar, “Wahai Ibnu Khattab, sesungguhnya engkau tidak pernah memberi kebaikan kepada kami dan tidak pernah memutuskan perkara kami dengan adil”. Melihat reaksi kemarahan Umar yang hendak memukul Uyainah, Al-Hurr bin Qays yang mendampingi saudaranya Uyainah mengingatkan umar dengan ayat Makarimil Akhlak, “Ingatlah wahai Umar, Allah telah memerintahkan nabi-Nya agar mampu menahan amarah dan mema’afkan orang lain. Sungguh tindakan engkau termasuk prilaku orang-orang jahil”. Kemudian Al-Hurr membacakan ayat ini. Seketika Umar terdiam merenungkan ayat yang disampaikan oleh saudaranya. Dan semenjak peristiwa ini, Umar sangat mudah tersentuh dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang menegur tindakan atau prilakunya yang kurang terpuji. (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas).

E. Kesimpulan 
            Sejatinya bagi orang muslim dapat menemukan sosok idola yang paling sempurna, yaitu baginda Rasulullah saw. Akhlak dan amal beliau adalah realisasi nilai-nilai al-qur’an. Semua butiran-butiran kata yang terucap dan perbuatannya mengandung banyak hikmah dan faidah. Hingga perkataan dan perbuatannya tidak di batasi oleh ruang dan waktu. Kehalusan dan kelembutan tutur kata dan perbuatan beliau terpancar dari al-qur’an. Pada diri beliau terdapat keteladanan yang luhur yang dapat menghantarkan pada rahmat dan ridha Allah.

Daftar Pustaka

Salim Bahreisy, Said Bahreisy. 1986. (Cet ke-1). Terjemah Singkat Tafsir Ibnu 
            Katsier. Surabaya : PT Bina Ilmu.
http://annajib.wordpress.com/2008/03/18/s-berhias-dengan-akhlak-karimah/
http://www.dakwatuna.com/2007/membangun-akhlakul-karimah/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s