Jual beli (kajian fiqh mu’amalah)

Posted: Juli 10, 2010 in Uncategorized

Pendahuluan

Islam melihat konsep jual beli itu sebagai suatu alat untuk menjadikan manusia itu semakin dewasa dalam berpola pikir dan melakukan berbagai aktivitas, termasuk aktivitas ekonomi. Pasar sebagai tempat aktivitas jual beli harus, dijadikan sebagai tempat pelatihan yang tepat bagi manusia sebagai khalifah di muka bumi. Maka sebenarnya jual beli dalam Islam merupakan wadah untuk memproduksi khalifah-khalifah yang tangguh di muka bumi.

Dalam Qur’an Surat Al Baqarah ayat 275, Allah menegaskan bahwa: “…Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…”. Hal yang menarik dari ayat tersebut adalah adanya pelarangan riba yang didahului oleh penghalalan jual beli. Jual beli (trade) adalah bentuk dasar dari kegiatan ekonomi manusia. Kita mengetahui bahwa pasar tercipta oleh adanya transaksi dari jual beli. Pasar dapat timbul manakala terdapat penjual yang menawarkan barang maupun jasa untuk dijual kepada pembeli. Dari konsep sederhana tersebut lahirlah sebuah aktivitas ekonomi yang kemudian berkembang menjadi suatu sistem perekonomian.

Pertanyaannya kini adalah, seperti apakah konsep jual beli tersebut yang dibolehkan dan sesuai dengan pandangan Islam? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka kita perlu melihat batasan-batasan dalam melakukan aktivitas jual beli. Di dalam makalah ini kami ingin mencoba menyajikan berbagai macam aspek yang ada di dalam jual beli, mulai dari pengertian, rukun dan syarat, macam-macam jual beli dan lain sebagainya yang melingkupi jual beli tersebut.

A. Pengertian

Jual beli menurut bahasa adalah al-Ba’iy, al-Tijarah, dan al-Mubadalah.

Hal ini disebutkan dalam firman Allah Swt :

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang kami anuge- rahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi (al-Fathir : 29)

Menurut terminology, terdapat banyak formula dalam pengertian jual beli dari beberapa orang ulama’, akan tetapi dapat kita simpulkan bahwa inti dari jual beli adalah suatu perjanjian tukar-menukar benda atau barang yang mempunyai nilai secara sukarela diantara kedua belah pihak, yang satu menerima benda-benda dan pihak lain menerimanya sesuai dengan perjanjian atau ketentuan yang telah dibenarkan Syara’ dan disepakati.[1]

Sesuai dengan ketetapan hokum maksudnya ialah memenuhi persyaratan-persyaratan, rukun-rukun, dan hal-hal lain yang ada kaitannya dengan jula beli sehigga bila syarat-syarat dan rukunnya tidak terpenuhi berarti tidak sesuai dengan kehendak Syara’.[2]

Benda dapat mencakup pengertian barang dan uang, sedangkan sifat benda tersebut harus dapat dinilai, yakni benda-benda yang berharga dan dapat dibenarkan penggunaannya menurut Syara. Benda itu ada kalanya bergerak (dipindahkan) dan ada kalanya tetap (tidak dapat dipindahkan), ada yang dapat dibagi-bagi, ada kalanya tidak dapat dibagi-bagi, ada harta yang ada perumpamaannya (mitsli) dan tak ada yang menyerupainya (qimi) dan yang lain-lainnya. Penggunaan harta tersebut dibolehkan sepanjang tidak dilarang syara’. [3]

Jual beli menurut ulama Malikiyah ada dua macam :

  1. Jual beli dalam arti umum, suatu perikatan tukar-menukar sesuatu yang bukan kemanfaatan dan kenikmatan.
  2. Jual beli dalam arti khusus, ikatan tukar-menukar sesuatu yang bukan kemanfaatan dan bukan pula kelezatan yang mempunyai daya tarik, penukarannya bukan mas dan bukan pula perak, bendanya dapat direalisir dan ada seketika (tidak ditangguhkan), tidak merupakan utang baik barang itu ada dihadapan si pembeli maupun tidak, barang yang sudah diketahui sifat-sifatnya atau sudah diketahui terlebih dahulu[4]

B. Rukun dan Syarat Jual Beli

Rukun jual yaitu akad (ijab kabul), orang-orang yang berakad (penjual – pembeli), dan ma’kud ‘alaih (objek akad).

Akad sebagai simbol dari suatu kerelaan dalam kegiatan jual beli antara penjual dan pembeli sehingga menjadikan suatu jual beli itu sah atau tidak.  Akan tetapi menurut jumhur ulama’ pada suatu jual beli yang telah menjadi kebiasaan, misalnya jual beli sesuatu yang menjadi kebutuhan sehari-hari tidak disyaratkan adanya akad (ijab kabul).

Syarat-syarat sah ijab kabul :[5]

  1. jangan ada yang memisahkan, pembeli jangan diam saja setelah penjual menyatakan ijab dan sebaliknya.
  2. Jangan diselingi dengan kata-kata lain antara ijab dan kabul
  3. Beragama Islam, dikhususkan untuk pembeli saja dalam hal-hal tertentu  misalnya menjual hambanya yang islam kepada pembeli non muslim. Dengan alasan bahwa besar kemungkinan bahwa pembeli tersebut akan merendahkan hamba yang beragama Islam tersebut, sedangkan Allah Swt melarang orang-orang mukmin memberi jalan kepada orang kafir untuk merendahkan orang mukmin, firman Allah Swt :

t3 `s9ur Ÿ@yèøgs† ª!$# tûï̍Ïÿ»s3ù=Ï9 ’n?tã tûüÏZÏB÷sçRùQ$# ¸x‹Î6y™ ÇÊÍÊÈ

Dan Allah sekali-kali tidak memberi jalan bagi orang kafir untuk menghina orang mukmin. (An-Nisa : 141)

Rukun jual beli kedua adalah dua orang atau beberapa orang yang yang melakukan akad. Adapun syarat orang yang melakukan akad antara lain :

  1. baligh dan berakal agar tidak mudah ditipu orang.
  2. beragama Islam, sebagaimana telah dijelaskan diatas tentang jual beli dalam hal tertentu saja.

Rukun jual beli yang ketiga adalah benda-benda atau barang-barang yang diperjual belikan (ma’kud ‘alaih), syarat-syarat benda yang menjadi objek akad sebagai berikut :

  1. suci atau mungkin disusikan, tidak sah penjualan benda-benda najis seperti anjing, babi, dan lain-lain.
  2. memberi manfaat menurut syara’.
  3. jangan ditaklikan, dikaitkan atau digantungkan kepada hal-hal tertentu.
  4. tidak dibatasi oleh waktu tertentu.
  5. dapat diserahkan dengan cepat maupun lambat, tidak sah menjual binatang yang sudah lari dan tidak dapat ditangkap kembali.
  6. milik sendiri, tidak sah menjual barang milik orang lain tanpa seijin pemiliknya.
  7. diketahui, barang tersebut diketahui berat, ukuran dan lain sebagainya, tidak sah menjul barang yang meimbulkan keraguan salah satu pihak.

Al-Omar dan Abdel-Haq (1996) menjelaskan perlu adanya kejelasan dari obyek yang akan dijual belikan. Kejelasan tersebut paling tidak harus memenuhi empat hal sebagai berikut :

1.  Lawfulness. Artinya, barang tersebut dibolehkan oleh syariah Islam. Barang tersebut harus benar-benar halal dan jauh dari unsur-unsur yang diharamkan oleh Allah. Tidak boleh menjual barang atau jasa yang haram dan merusak

2.  Existence. Obyek dari barang tersebut harus benar-benar nyata dan bukan tipuan. Barang tersebut memang benar-benar bermanfaat dengan wujud yang tetap.

3.  Delivery. Artinya harus ada kepastian pengiriman dan distribusi yang tepat. Ketepatan waktu menjadi hal yang penting disini.

4.  Precise determination. Kualitas dan nilai yang dijual itu harus sesuai dan melekat dengan barang yang akan diperjualbelikan. Tidak diperbolehkan menjual barang yang tidak sesuai dengan apa yang diinformasikan pada saat promosi dan iklan.

C. Macam-macam jual beli

a. Ditinjau dari segi benda yang dijadikan objek :

  1. jual beli benda yang kelihatan, barang yang menjadi objek juak beli ada di depan penjual dan pembeli secara langsung.
  2. jual beli yang disebutkan sifat-sifatnya dalam perjanjian ialah jual beli salam (pesanan). Menurut kebiasaan para pedagang, salam adalah untuk jual beli yang tidak tunai (kontan), salam pada awalnya berarti meminjamkan barang atau sesuatu yang seimbang dengan harga tertentu, maksudnya adalah perjanjian yang penyerahan barang-barangnya ditangguhkan hingga masa tertentu sebagai imbalan harga yang telah ditetapkan ketika akad.
  3. jual beli yang tidak ada, jual beli yang dilarang oleh agama Islam karena barangnya masih gelap atau tidak tertentu sehingga dikhawatirkan barang tersebut adalah hasil curian atau barang titipan sehingga dapat menimbulkan kerugian salah satu pihak.[6] Termasuk juga penjualan umbi-umbian yang masih dalam tanah, atau buah-buahan yang masih hijau, karena termasuk perbuatan ghoror, Rasulullha Saw bersabda : Sesungguhnya Nabi Saw melarang penjualan anggur sebelum hitam dan dilarang penjualan biji-bijian sebelum mengeras.

Jika dilihat dari objek transaksinya, akad jual beli dapat pula dikategorikan menjadi 4 macam, yakni :[7]

  1. Bai’al-Muqayadlah, yaitu pertukaran/jual beli riil asset dengan riil asset seperti pertukaran pakaian dengan bahan makanan.
  2. Bai’ al-Muthlaq, yaitu pertukaran riil asset dengan financial asset seperti membeli sebungkus rokok dengan harga Rp. 8000,-.
  3. Ash-Sharf, yaitu pertukaran financial asset dengang financial asset seperti transaksi valas.
  4. As-Salam, yaitu pertukaran asset financial dengan riil asset, artinya harga/uang diserahkan pada saat kontrak sedangkan barang diseahkan kemudian hari.

b. Dilihat dari segi penentuan harganya, jual beli dapat dikategorikan kedalam 4 macam,yakni :[8]

  1. Bai’ al-Murabahah, yakni jual beli barang dengan harga pokok pembelian ditambah dengan tingkat keuntungan tertentu yang diinformasikan kepada pembeli.
  2. Bai’ at-Tauliyah, yakni jual beli barang dengan harga sama dengan harga pokok tanpa adanya penambahan atau pengurangan.
  3. Bai’ al-Wadli’ah, yakni jual beli barang dengan harga kurang dari harga pokok pembelian (terdapat tingkat kerugian tertentu)
  4. Bai’ al-Musawamah, yakni jual beli barang dengan adanya kesepakatan antara penjual dan pembeli tentang harga barang.

c. Ditinjau dari segi pelaku akad (subjek), jual beli terbagi menjadi 3 bagian sebagai berikut :

  1. dengan lisan, yaitu akad jual beli yang dilakukan dengan lisan, bagi orang bisu dapat menggunakan isyarat yang menampakkan kehendak.
  2. dengan perantara, yaitu penyampaian akad dengan utusan, perantara, atau surat menyurat yang sama hakekatnya dengan ijab kabul dengan ucapan.
  3. dengan perbuatan, yaitu jual beli yang dikenal dengan istilah mu’athah yaitu mengambil dan memberikan barang tanpa ijab dan kabul. Misalnya jual beli di swalayan yang setiap barangnya telah dibandrol harga tertentu oleh penjual, pembeli tanpa memerlukan ijab kabul tertentu cukup mengambil barang dan penjual menerima uang dari sang pembeli .

D. Jual beli yang dilarang dan batal hukumnya adalah sebagai berikut :

  1. jual beli barang yang najis
  2. jual beli sperma hewan.
  3. jual beli anak binatang yang masih ada dalam perut induknya.
  4. jual beli dengan muhaqallah, yaitu menjual tanaman yang masih diladang atau disawah, dilarang karena ada persangkaan riba.
  5. jual beli dengan mukhadharah, yaitu menjual buah-buahan yang belum pantas untuk dipanen.
  6. jual beli dengan munabadzah, yaitu jual beli dengan melempar-lempar barang, dilarang karena mengandung tipuan.
  7. jual beli dengan muammassah, yaitu jual beli secara sentuh menyentuh suatu barang pada waktu siang atau malam dengan pengertian orang yang menyentuh itu telah membeli barang tersebut, dilarang karena mengandung tipuan yang dapat merugikan salah satu pihak.
  8. jual beli dengan muzabanah, yaitu menjual buah yang basah dengan buah yang kering dengan ditakar dengan takaran yang sama.
  9. menentukan dua harga untuk satu barang yang diperjual belikan. Menurut Syafi’i penjualan ini mengandung 2 arti yaitu “Aku jual buku ini $ 10 dengan tunai atau $15 dengan kredit” atau “Aku jual buku ini kepadamu dengan syarat kamu harus menjual tasmu padaku”

10.  jual beli gharar, yaitu jual beli yang samara sehingga ada kemungkinan terjadi penipuan, seperti menjual kacang tanah yang atasnya kelihatan bagus tetapi dibawahnya jelek.

E. Khiar dalam jual beli :

Dalam agama Islam dibolehkanlah khiar dalam jual beli, apakah akan meneruskan jual beli atau akan membatalkannya. Karena terjadinya oleh suatu hal, khiar dibagi kedalam tiga macam :

  1. Khiar Majlis

Artinya antara penjual dan pembeli boleh memili akan melanjutakan jual beli atau membatalkannya selama keduanya masih dalam satu tempat atau majelis.

2.   Khiar syarat

Yaitu penjualan yang didalamnya disyaratkan sesuatu baik oleh penjual dan pembeli, seperti seseorang berkata “saya jual rumah ini dengan harga seratus juta rupiah dengan syarat khiar selama tiga hari.

3.  Khiar ‘aib

Artinya dalam jual beli ini disyaratkan kesempurnaan benda-benda yang dibeli.

F. Lelang (muzayadah)

Penjualan denga cara lelang seperti ini dibolehkan dalam agama islam karena dijelaskn dalam satu keterangan yang artinya : “Dari Anas ra, Ia berkata Rasulullah SAW.menjual sebuah pelana dan sebuah mangkok air dengan berkata ; siapa yang ingin membeli  pelana dan mangkok ini? Seorang laki-laki menyahut; aku bersedia membelinya seharga satu dirham. Lalu nabi berkata lagi, siapa yang berani menambahi? Maka diberi dua dirham oleh seorang laki-laki kepada beliau, lalu dijuallah kedua benda itu kepada laki-laki tadi.(HR. Tirmizi)

G. Kesimpulan

Allah swt. mensyariatkan jual beli sebagai pemberian keluangan dan keleluasaan dari-Nya untuk hamba-hamba-Nya. Karena semua manusia secara pribadi mempunyai kebutuhan berupa sandang, pangan dan sebagainya. Kebutuhan seperti ini tidak pernah terputus selama manusia masih hidup. Tidak seorangpun dapat memenuhi hajat hidupnya sendiri, karena itu ia dituntut berhubungan dengan lainnya. Dalam hubungan ini tidak ada satu hal pun yang lebih sempurna dari pertukaran; dimana seseorang memberikan apa yang ia miliki untuk kemudian ia memperoleh sesuatu yang berguna dari orang lain sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Jika akad telah berlangsung, segala rukun dan syaratnya dipenuhi, maka konsekuensinya; penjual memindahkan barang kepada pembeli dan pembelipun memindahkan miliknya kepada penjual sesuai dengan harga yang disepakati, setelah itu masing-masing mereka halal menggunakan barang yang pemiliknya yang dipindahkan tadi di jalan yang dapat dibenarkan syariat.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa Allah swt. telah mensyariatkan jual beli, sebagai tujuan agar diantara umat saling berhubungan atau saling bermuamalah antara satu dengan lainnya, dan saling memenuhi kebutuhan secara timbal balik di antara mereka.

Daftar Pustaka

Dimyaudin Djuwaini. Pengantar Fiqh Mu’amalah. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 2008.

Suhendi, Hendi.  Fiqh Mu’amalah. Jakarta : PT Raja Garfindo Persada, 2008.

http://meetabied.wordpress.com/2009/10/30/tinjauan-tentang-hukum-jual-beli-dalam-islam/

http://www.pesantrenvirtual.com/index.php/ekonomi-syariah/1062-jual-beli-dalam-pandangan-islam

http://zanikhan.multiply.com/journal/item/495/JUAL_BELI_DALAM_ISLAM


[1] Dr. H. Hendi Suhendi,  Fiqh Mu’amalah. Jakarta : PT Raja Garfindo Persada, 2008. hlm. 69.

[2] Ibid.

[3] Ibid.

[4] Ibid.

[5] Ibid. hlm 71.

[6] Ibid. hlm. 76.

[7] Dimyaudin Djuwaini. Pengantar Fiqh Mu’amalah. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 2008. hlm. 102.

[8] Ibid. hlm. 103.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s